|
Menjadi seorang guru yoga adalah sesuatu yang datang diluar dugaan. Kendati
saya telah melakukan yoga, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa pada
suatu saat saya akan menjadi seorang guru yoga. Suatu hari, seorang kawan saya
mendapatkan beasiswa untuk menjadi instruktur yoga. Pada saat itulah saya
mengetahui bahwa ini adalah hal yang perlu saya lakukan selanjutnya dalam hidup
saya.
Saya selalu tahu bahwa
misi hidup saya adalah untuk menolong orang lain. Kendati panggilan ini
begitu kuat, entah bagaimana pada awalnya saya merasa takut. Namun, hal ini
adalah hal yang paling alamiah bagi saya. Sepanjang hidup saya, saya selalu
melayani, tetapi ada sesuatu yang tidak lengkap atau hilang. Saya tidak
memiliki batas-batas dan orang-orang sering memanfaatkan saya.
Hanya ketika saya memahami bahwa melayani bukan berarti menjadi pelayan, maka
saya dapat menjadi seorang penyembuh sejati. Pada saat saya memahami hal ini:
pintu-pintu terbuka dihadapan saya, dan arah tujuan saya dalam hidup menjadi
sangat jelas.
Saya berada dalam jalan spiritual. Saya tidak berpura-pura berada di depan,
mendahului. Tidak ada hirarki atau urutan dalam perjalanan spiritual ini. Kita
semua adalah guru bagi satu sama lain. Murid-murid saya adalah para guru saya.
Mereka membantu saya untuk melangkah lebih jauh dalam perjalanan saya.
Walaupun demikian, selama bertahun-tahun saya merasa bahwa saya telah tiba di
tempat yang sangat nyaman sekali, sebuah tempat dimana saya cinta menjadi diri
saya sendiri, sebuah tempat dimana saya menyayangi diri saya sendiri. Sepanjang
perjalanan, saya mendapatkan berbagai macam pengalaman yang membuat saya
menjadi siapa diri saya sekarang ini, dan akan banyak lagi
pengalaman-pengalaman yang datang menjelang. Saya tidak khawatir; Saya
menyambut dengan tangan terbuka kedatangan berbagai pengalaman baru, karena
saya melihat mereka ini sebagai pengalaman-pengalaman dimana saya dapat belajar
dan mengambil hikmahnya. Ketika kita diuji, kita belajar dan berkembang.
Pada tahun sembilanpuluhan, saya pindah ke Taiwan dimana saya belajar bahasa
Mandarin di Universitas Tunghai selama satu tahun. Kemudian setelah itu, selama
beberapa tahun saya bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah
swasta disana. Tahun-tahun saya di Taiwan sangat menyenangkan. Saya memiliki
peruntungan yang baik. Menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa dalam profesi
saya sebagai pengajar bahasa Inggris saya memanfaatkan ketrampilan saya sebagai
seorang penyembuh.
Banyak dari murid-murid yang datang ke kelas saya adalah para anak muda, laki
dan perempuan, yang kurang yakin pada dirinya sendiri. Entah bagaimana,
sepertinya saya menarik siswa-siswa jenis ini.
Dengan cepat sekali saya menyadari bahwa saya memiliki kemampuan untuk
memberikan kepada para siswa tersebut keyakinan pada diri sendiri atau rasa
percaya diri. Bagi mereka yang bahkan sangat lebih rendah diri, saya tempatkan
mereka dalam sebuah gelembung kecil dan mengikatkan gelembung kecil ini pada
hati saya dan melupakan tentang mereka sambil terus melanjutkan kelas saya.
Saya tidak tahu darimana saya mendapatkan gagasan ini. Hal ini datang begitu
alamiahnya pada saya. Saya dapat melihat bahwa tanpa melakukan sesuatu yang
khusus pada para siswa ini, mereka bermetamorposis dengan sendirinya bersamaan
dengan jalanannya pelajaran di kelas. Cahaya singgah pada mata mereka. Bahkan
rona wajah mereka pun menjadi lebih jernih. Seakan-akan saya menyinari mereka
dengan cahaya. Yang menarik dari hal ini, semuanya terjadi tanpa saya
benar-benar berusaha melakukannya. Semua ini datang melalui niatan dalam hati
saya.
Setelah lima tahun, saya masih senang untuk tinggal di Taiwan tetapi ada
sesuatu yang mendesak saya keluar dari sana. Hidup saya terasa tidak lengkap.
Saya putuskan untuk melakukan perjalanan selama beberapa waktu, dan menempuh
jalan saya ke selatan, ke Australia dari Thailand. Selama masa itu saya
berkelana melalui Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Saya terkejut
melihat perbedaan penafsiran tentang keilahian atau hakekat ketuhanan di
berbagai budaya yang berbeda. Menyaksikan pelbagai perbedaan perwujudan
keilahian ini membuat saya menyadari bahwa pasti ada Tuhan. Keilahian datang
dalam berbagai bungkus yang berbeda sesuai dengan penafsiran yang berbeda dari
berbagai budaya yang berbeda.
Ketika saya datang ke Bali, seperti yang lainnya, saya sangat senang sekali
dengan keindahan dan enerji dari pulau ini. Pada saat itu saya baru selesai
membaca buku karangan Paolo Coelho yang berjudul Sang Alkimis (The
Alchemist). Dalam buku itu, Sang Alkimis berujar pada si gembala:
"Ketika kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, alam semesta akan
bersekongkol mewujudkan hal itu." Saat itu saya ingin lari ke sawah dan
berteriak, "Saya mau tinggal disini selamanya."
Saya akhirnya memang tinggal di Bali. Hanya belakangan saya mengerti bahwa kita
memang dapat memaksa keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu yang sangat kita
inginkan, tetapi karena kita tidak memiliki gambaran yang utuh, maka kita
mungkin menghalangi rencana alam semesta dan membatasi kemungkinan-kemungkinan
kita sendiri.
Selama tahun pertama, saya melakukan meditasi dan berlatih yoga setiap hari.
Dengan sangat cepat saya mengalami keberuntungan. Saya mendapatkan pekerjaan,
kekasih, sebuah studio kecil yang nyaman dan seekor anak kucing yang bernama
Black Magic. Saya berpikir bahwa saya tidak mungkin menginginkan lagi
yang lain. Saya begitu bersyukur sehingga saya memutuskan untuk menyerahkan
semuanya kepada Tuhan dalam meditasi saya. Saya tidak ingat mengapa hal ini
terlintas dalam benak saya, tetapi saya serahkan pekerjaan saya, kekasih saya,
studio saya dan anak kucing saya.
Dalam kurun satu minggu, saya kehilangan semua. Saya kaget. Saya tahu saya
mendapatkan perhatian Tuhan, tetapi pada saat itu saya tidak tahu apa maknanya.
Saya takut, tetapi didalam hati saya tahu bahwa saya telah melakukan hal yang
tepat. Saya tidak pernah meragukan hal ini. Saya tidak memiliki siapapun yang
dapat saya ajak bicara pada saat itu. Inilah awal dari perjalanan spiritual
saya.
Sebulan kemudian, saya mendapatkan pekerjaan baru; lebih baik dari sebelumnya,
sebuah rumah baru, kekasih baru, dan seekor kucing masuk ke rumah saya
melahirkan lima ekor anak. Saya memiliki semuanya, dan [bahkan] lebih dari
sebelumnya.
Begitulah, anda melihat, kan ?; sebelumnya saya membatasi diri saya. Apa yang
saya miliki sebelumnya, saya pikir itulah yang terbaik yang saya dapat
inginkan. Tetapi Tuhan memiliki rencana lebih baik lagi bagi diri saya pada
saat saya menyerahkan diri saya padaNYA. Saya pergi melintasi panca indra
pikiran saya, dan menarik lebih dari apa yang sebelumnya telah dibatasi oleh
pikiran saya.
Hanya kemudian setelah membaca buku "A Return to Love" (Kembali ke
Cinta Kasih), karangan Marianne Williamson, saya akhirnya memahami apa yang
telah terjadi pada diri saya saat itu. Marianne berkata dalam buku itu: "Ketika
kehidupan kita diberikan kepada Tuhan, Sang Jiwa Maha Suci, untuk tujuanNYA,
bakat-bakat baru muncul didalam diri kita. Begitu hati kita terbuka, maka
berbagai bakat dan kelebihan mulai berkembang."
Selama tahun kedua berada di Bali, saya menderita sakit yang sangat pada perut
bagian bawah. Saya mengunjungi beberapa dokter di Bali, tapi tak satu pun yang
dapat membantu. Pada saat itulah saya diperkenalkan pada guru saya. Akhirnya
saya pergi ke Singapura dan berkonsultasi dengan seorang ginekolog. Setelah
tes, dia mengatakan bahwa saya mempunyai kista di ovarium atau indung telur dan
perlu dibedah. Dokter itu mengatakan bahwa kista ini tidak membahayakan hidup
saya. Dia melakukan tes darah, yang dia bilang tidak 100% akurat tetapi
mengindikasikan bahwa kista ini mungkin bukan kanker. Saya berterimakasih pada
dokter ini karena dia bukan seorang alarmis dan tidak berusaha mempengaruhi
keputusan saya.
Dengan informasi tadi, saya pulang ke Bali dan kembali menemui guru saya, yang
pada saat itu belum saya kenal dengan baik. Sekarang ketika mengingat tentang
saat-saat itu, saya tidak tahu apa yang mendorong saya untuk melakukan itu.
Saya bertanya apakah dia dapat membantu saya. Dia berkata dia akan mencoba. Dia
memberi saya jejamuan alamiah dan menyuruh saya untuk melakukan sebuah diet.
Saya mengikuti setiap nasehatnya sampai sekecil mungkin. Saya bermeditasi
setiap hari dan melakukan yoga dengan teratur. Saya sangat berdedikasi pada
langkah spiritual yang saya ambil dan pada proses penyembuhan diri sendiri.
Saya sadar bahwa saya perlu menyembuhkan lebih dari sekedar ovarium saya.
Pada saat itu secara kebetulan saya menemukan sebuah buku yang sangat membantu
saya: "You Can Heal Your Life" (Kau dapat menyembuhkan kehidupanmu)
karangan Louise Hay. Saya melakukan semua latihan yang tercantum disana. Saya
tahu bahwa saya tidak berdamai dengan diri sendiri dan tidak dapat melanjutkan
untuk hidup dengan cara demikian. Saya tinggal jauh dari sanak keluarga dan
kerabat saya. Saya tidak dapat membodohi diri saya lebih lama lagi. Saya tidak
akan kehilangan apapun yang memang tidak saya miliki, singkat kata saya tidak
akan rugi. Saya putuskan untuk meloncat kedalam kehampaan dan menyembuhkan diri
saya.
Enam bulan kemudian, saya kembali mengunjungi dokter saya di Singapura. Dia
heran. Kista dalam ovarium saya hilang. Dia berkata bahwa entah apapun itu yang
saya lakukan, lanjutkan saja karena hal itu berhasil. Kemudian, enam bulan
sesudahnya saya mengunjungi dia kembali untuk pemeriksaan ulang dan di rak
bukunya terdapat berbagai buku tentang pengobatan dan obat-obatan alternatif.
Dia berkata bahwa jika dia merasa hal ini tepat dan cocok, dia menganjurkan
kaum perempuan untuk juga dapat mempertimbangkan pengobatan dan obat-obatan
alternatif.
Saya bukan anti pembedahan atau pengobatan dan obat-obatan dari barat. Justru
sebaliknya, saya sangat menghormati pekerjaan yang dilakukan oleh para dokter,
ahli bedah, dan lainnya yang menerapkan pengobatan dan obat-obatan dari barat.
Saya percaya jika seseorang sedang sakit, dia harus memanfaatkan semua sumber
daya yang tersedia untuk menyembuhkan dirinya, baik itu cara pengobatan dan
obatan-obatan dari barat maupun timur dan alternatif. Keputusan saya adalah
tepat untuk saya pada saat itu. Pembedahan adalah pengalaman yang traumatis
bagi ingatan fisik dari badan kita, dan saya merasa bahwa ini hanya harus
dilakukan jika perlu dan jika tidak ada cara-cara lain.
Pada waktu itu, seorang teman juga memberikan sebuah buku tentang Runes
dan Yi-Jing (Buku tentang Perubahan). Runes dan Yi-Jing
adalah sekutu penting selama tahun-tahun tersebut, ketika saya dalam
kebimbangan, saya dapat berkonsultasi dengan kebijaksanaan-kebijaksaan yang
terdapat didalamnya.
Pada tahun-tahun tersebut, berbagai macam orang datang dalam hidup saya dan
menguji batas-batas saya. Ujian-ujian semakin keras dan semakin keras karena
saya tidak dapat mengertinya, sampai suatu hari, dapat dikatakan, saya terpojok
ke tembok buntu. Selama saya menulis untuk situs ini, pada saat saya
memproklamirkan bahwa saya bebas dari masalah tentang batas, alam semesta
menguji saya beberapa kali. Tetapi kali ini, seperti layaknya seorang pro, saya
mengatasi situasi-situasi ini secara mudah dan tanpa kerja keras.
Pada saat kita terus menerus menghadapi situasi yang sama, kita harus memiliki
kesadaran bahwa ini adalah sebuah situasi dimana kita harus mengatasinya
sebelum kita mencapai tingkat selanjutnya dalam pertumbuhan kita. Semakin cepat
kita memahami ini, semakin cepat kita tumbuh.
Suatu hari seseorang memberikan saya sebuah buku kecil berjudul "The
Abudance Book" (Buku Keberlimpahan) karangan J. Randolph Price. Saya
membaca buku itu dengan rasa ketertarikan yang mendalam. Dalam buku itu
terdapat sebuah program meditasi spiritual 40-Hari. Program ini sangat membantu
saya memprogram ulang pikiran saya dan membuka kesadaran saya. Saya melakukan
ulang program 40-Hari ini berkali-kali. Bahkan sesungguhnya, setiap tahun saya
melakukan ulang program ini untuk memastikan bahwa saya masih 'selaras'.
Dunia luar kasat mata kita adalah cerminan dari dunia dalam kita. Buku ini
bukan tentang uang. Ia berbicara tentang keberlimpahan dalam semua bidang
kehidupan kita: keberlimpahan dalam kehidupan spiritual, keberlimpahan dalam
kesehatan, keberlimpahan dalam kehidupan keluarga, keberlimpahan dalam
kehidupan cinta, keberlimpahan dalam kehidupan profesi dan keberlimpahan dalam
kehidupan materi. Kesejatian alamiah kita adalah kedamaian, dan pikiran kita
memungkinkan kedamaian ini terganggu. Kita hanya perlu untuk sungguh-sunggu
yakin dan berhenti mengendalikan hal-hal, orang-orang dan kejadian-kejadian.
Ketakutan dan pikiran negatip menyabotase kehidupan kita, sedangkan cinta kasih
dan kepercayaan adalah fondasi atau landasan kehidupan kita.
Orang lebih siap menerima bahwa penyakit disebabkan oleh pikiran negatip kita.
Kendati demikian, sebagaimana penyakit disebabkan oleh emosi yang lengket
didalam tubuh, kemerosotan atau kemunduran dalam kehidupan kita ditimbulkan
oleh pikiran-pikiran negatip.
Apa yang anda investasikan, anda akan mendapatkannya kembali. Jika anda
berinvestasi dalam pikiran negatip, anda menuai hal-hal negatip. Jika anda
berinvestasi dalam pikiran positip, anda menuai keberlimpahan. Tetapi yang
terpenting adalah niatan anda. Orang harus selalu tulus dan sungguh hati
terhadap diri sendiri. Dia tidak dapat membodohi hukum alam semesta.
Pada saat-saat saya sedang menyembuhkan diri sendiri tersebut, saya tiba pada
kesadaran bahwa saya terikat pada kesakitan fisik maupun kesakitan emosi saya.
Itulah halangan terbesar dalam jalan spiritual kita. Kita [seyogyanya] harus
tulus untuk berserah diri.
Ini adalah mengenai sikap berserah diri dan hidup dalam kekinian. Saya
menemukan sebuah ungkapan kata yang indah dalam Jalan menuju Cinta dari Deepak
Chopra: "Sang Jiwa selalu bersama saya. Ia ingin meringankan kesakitan saya. Ia
melakukan ini semua tidak dengan cara menghapuskan kenangan yang menyakitkan,
tetapi meletakkan saya seutuhnya dalam kekinian, dimana masa lalu tidak ada."
|